Top Ad unit 728 × 90

recent

Inilah Hasil Konferensi Ulama Internasional Di NTB

Konferensi Ulama Internasional
Alhamdulillah. Ikhtiar kami untuk mensosialisasikan konsep dan menyebarkan metode dakwah yang merangkul semua kalangan melalui manhaj jalan tengah alias Moderasi Islam (Wasathiyyatul Islam) melalui Konferensi Ulama Internasional 2018 di Islamic Center Mataram Lombok NTB pada 27-29 Juli 2018,  menghasilkan sembilan kesepakatan yang disebut Lombok Message.
Imam Besar Barisan Muda Ummat (BMU) Ayahanda Tu Sop Jeunieb didampingi Ulama Muda Aceh bertemu & Berdiskusi, berbagi ilmu dengan TGB di Pendopo Gubernur NTB disela-sela menghadiri acara Konferensi Ulama Internasional di NTB.
Sahabat saya Dr. H. Muchlis Hanafi selaku Sekjen Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia, membacakan 9 poin Lombok Message pada penutupan Konferensi Ulama Internasional 2018 sebagai berikut.

1. Para peserta konferensi bersepakat bahwa Ahlussunnah wal Jama'ah adalah mereka yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, yang berpegang teguh pada Al-Qur`an dan Sunnah, yaitu para pengikut Asy'ariyyah-Maturidiyyah, para fukaha, ahli hadis dan tasawuf yang mengikuti Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW.

2. Konsep "al-firqah al-nâjiyah" (kelompok yang selamat) seperti disebut dalam beberapa riwayat dan menjadi salah satu pemicu perpecahan umat Islam, adalah masalah khilafiah yang belum disepakati para ulama. Riwayat-riwayat hadis tentang itu masih diperdebatkan para ulama, baik dari periwayatan (sanad) maupun substansinya (matan), terutama yang terkait dengan prediksi di akhirat bahwa "semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok". Ini masalah akidah yang harus didasari pada hadis-hadis yang mutawatir. Konsep ini tidak bertentangan dengan perbedaan dan keragaman dalam pandangan keagamaan, dan tidak bertolak belakang dengan perintah untuk menjaga persatuan.

3. Sektarianisme, rasisme dan diskriminasi dalam bentuk apa pun bertentangan dengan wasathiyyatul Islam, dan harus dilawan dengan berbagai cara, sebab mengganggu keutuhan tanah air, memperkeruh harmoni sosial antara warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang setara. Wasathiyyatul Islam menjamin hak untuk berbeda, dan menjamin hak kebebasan penganut agama lain dalam menjalankan agama dan beribadah sesuai keyakinannya.

4. Al-Azhar al-Syarif adalah garda depan Wasathiyyatul Islam sepanjang sejarah, lebih dari seribu tahun, dengan metode yang mengakui dan mengukuhkan keragaman, menghormati pandangan dan sikap orang lain yang berbeda, tanpa menuduhnya kafir (takfîr), fasiq (tafsîq) dan berbuat bid`ah (tabdî).

5. Perlu membangun konsep pemikiran, bimbingan dan pendidikan bagi mereka yang keluar dari jalur wasathiyyah, yaitu penganut pemikiran ekstrem yang kembali (returnis) dari daerah-daerah konflik, agar dapat menjadi warga negara yang baik. Al-Azhar al-Syarif dan para ulamanya serta kantor-kantor cabang Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) yang tersebar di beberapa negara siap melakukan itu.

6. Perlu membuat desain program pendidikan yang dibangun atas dasar wasathiyyatul Islam dan nir-kekerasan, dengan target sasaran anak-anak yang akan menjadi harapan masa depan, dalam upaya membangun dan melindungi mereka dari pemikiran ekstrem yang bertentangan dengan manhaj wasathiyyah. Dalam hal ini, OIAA siap berbagai pengalaman dan mendukung secara substansi keilmuan.

7. Wasathiyyatul Islam adalah metode dalam beribadah, bermuamalah, praktik ekonomi, sosial dan seluruh aspek kehidupan lainnya. Selain itu, wasathiyyah adalah solusi dalam menghadapi Islamofobia yang muncul akibat beberapa aksi terorisme, pertumpahan darah dan problematika lainnya.

8. Perlu menyelenggarakan seminar dan konferensi, serta memanfaatkan berbagai media sosial dalam melakukan sosialisasi wasathiyyah dan counter pemikiran ekstrem. Selain itu juga perlu memberikan bimbingan bagi pemuda Muslim terkait situs-situs internet yang menyebarkan pemikiran ekstrem dan kekerasan.

9. Wasathiyyatul Islam memanusiakan dan memuliakan manusia, terlepas dari perbedaan agama dan keyakinan, menanamkan prinsip musyawarah dan keadilan sosial bagi seluruh penduduk suatu negara, menegaskan persatuan tanah air dan menanamkan loyalitas terhadap negara. Indonesia telah mengambil inisiatif baik dengan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai dasar negara yang tercermin dalam Pancasila. Oleh karenanya, perlu terus dijaga dan dirawat.

Semoga semua ikhtiar ini, mendapat berkah dan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Aamiin ya robbal Alamin.

Sumber: Akun Fb TGB Gubernur NTB.
Inilah Hasil Konferensi Ulama Internasional Di NTB Reviewed by barisan muda ummat on July 28, 2018 Rating: 5

No comments:

All Rights Reserved by Barisan Muda Ummat © 2018
Powered By Blogger, Touch by Iqbal Mauludy

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.